Opini

Jangan Menua Tanpa Jaminan Sosial

ADA satu fase dalam kehidupan yang sering kita persiapkan dengan banyak cara, tetapi justru kerap dilupakan dari jauh-jauh hari masa tua.

Kita sibuk mengejar pendidikan, membangun karier, membeli rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan mempersiapkan masa depan anak-anak. Namun, tidak sedikit dari kita yang menjalani masa produktif tanpa benar-benar bertanya: ketika kemampuan bekerja mulai berkurang, siapa yang akan memastikan kehidupan kita tetap layak?

Menua adalah sesuatu yang pasti. Tetapi menua dalam kondisi sehat, mandiri, dan memiliki kehidupan sosial yang baik adalah sebuah harapan yang membutuhkan persiapan.

Lebih ideal lagi apabila seseorang memasuki usia lanjut dengan kondisi fisik yang relatif sehat, lingkungan sosial yang mendukung, tabungan yang cukup, serta jaminan sosial yang dapat menjadi penyangga ketika kemampuan ekonomi mulai menurun.

Sayangnya, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana.

Kecelakaan kerja dapat terjadi tanpa peringatan. Penyakit akibat pekerjaan dapat muncul setelah bertahun-tahun. Kemampuan untuk bekerja bisa berkurang karena usia, kondisi kesehatan, atau keadaan lain yang berada di luar kendali manusia.

Di sinilah jaminan sosial menemukan maknanya.

Jaminan sosial sesungguhnya bukan sekadar fasilitas yang baru terasa manfaatnya ketika seseorang mengalami musibah. Ia adalah bagian dari perencanaan kehidupan—sebuah mekanisme untuk memastikan bahwa risiko sosial dan ekonomi tidak sepenuhnya harus ditanggung oleh individu dan keluarganya.

Karena itu, membicarakan jaminan sosial seharusnya tidak dimulai ketika seseorang sudah mendekati usia pensiun. Pembicaraan itu semestinya dimulai ketika seseorang masih muda, masih produktif, bahkan ketika merasa bahwa masa tua masih terlalu jauh untuk dipikirkan.

Sebab masa tua tidak pernah datang secara tiba-tiba. Ia dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil yang kita ambil hari ini.

Menyisihkan sebagian penghasilan. Mengelola keuangan secara disiplin. Menjaga kesehatan. Bekerja dengan aman. Dan memastikan diri terlindungi dalam sistem jaminan sosial merupakan bagian dari ikhtiar tersebut.

Melalui program-program BPJS Ketenagakerjaan, negara telah membangun fondasi perlindungan bagi pekerja, mulai dari menghadapi risiko kecelakaan kerja hingga mempersiapkan masa pensiun dan hari tua.

Namun, tantangannya bukan hanya soal tersedia atau tidaknya program. Tantangan yang lebih besar adalah kesadaran untuk mengambil bagian di dalamnya.

Masih banyak pekerja produktif yang belum terlindungi secara optimal. Alasannya beragam: penghasilan yang terbatas, hubungan kerja yang tidak tetap, kurangnya informasi, merasa masih muda, atau sekadar menganggap risiko sebagai sesuatu yang selalu terjadi pada orang lain.

Padahal, justru ketika kita masih merasa sehat dan produktif, perlindungan itulah yang seharusnya mulai dibangun.

Kita sering memahami asuransi dan jaminan sosial dengan logika sederhana: semoga tidak pernah digunakan. Tetapi di balik logika itu terdapat sebuah prinsip penting—perlindungan tidak dibuat karena kita mengharapkan musibah, melainkan karena kita sadar bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya mampu mengendalikan masa depan.

Idealnya, setiap orang dapat bekerja dengan aman, memperoleh penghasilan yang layak, hidup sehat, terbebas dari penyakit akibat kerja, dan memiliki perlindungan sosial yang memadai.

Itulah sesungguhnya wajah pekerjaan yang bermartabat.

Persoalan ini juga bukan hanya milik Indonesia. Hampir semua negara menghadapi tantangan yang sama: bagaimana memastikan masyarakat yang menua tetap memiliki kehidupan yang layak, bagaimana melindungi pekerja dari berbagai risiko, serta bagaimana menjaga agar seseorang tidak jatuh ke dalam kemiskinan ketika kemampuan ekonominya menurun.

Karena itu, jaminan sosial bukan semata-mata urusan pemerintah. Ia membutuhkan keterlibatan pekerja, pemberi kerja, negara, dan masyarakat secara bersama-sama.

Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, munculnya pekerjaan informal, ekonomi digital, pekerja platform, serta pola kerja yang semakin fleksibel, isu jaminan sosial justru menjadi semakin penting. Sistem perlindungan harus mampu mengikuti perubahan dunia kerja, sementara pekerja juga perlu memiliki kesadaran bahwa fleksibilitas kerja seharusnya tidak berarti kehilangan perlindungan.

Pada akhirnya, kita semua akan sampai pada titik ketika tenaga tidak lagi sekuat hari ini.

Pertanyaannya bukan apakah kita akan menua.

Pertanyaannya adalah dalam kondisi seperti apa kita ingin menua?

Apakah kita ingin memasuki hari tua dengan kecemasan karena tidak memiliki perlindungan? Atau dengan rasa tenang karena sejak usia produktif telah menyiapkan fondasi kehidupan yang lebih aman?

Menabung adalah investasi untuk kebutuhan masa depan. Menjaga kesehatan adalah investasi untuk kualitas hidup. Tetapi membangun perlindungan sosial adalah investasi untuk martabat manusia ketika risiko kehidupan datang dan ketika kemampuan bekerja mulai berkurang.

Karena itu, jangan menunggu tua untuk mulai memikirkan hari tua.

Jangan menua tanpa jaminan sosial.

Pesan ini menjadi semakin relevan setelah mengikuti pembelajaran dalam Social Security Academy yang diselenggarakan International Labour Organization (ILO)–International Training Centre of the ILO (ITC Turin), September 2026.

Sebuah pengingat bahwa jaminan sosial bukan sekadar program perlindungan. Ia adalah bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan bermartabat—sebuah investasi sosial yang manfaatnya mungkin tidak selalu kita rasakan hari ini, tetapi menentukan seperti apa kita menjalani hari esok.

 

Sumarjono Saragih (Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, Founder Wispo.id) 

holland casino slot